KONGRES XV IKATAN PUSTAKAWAN INDONESIA DAN SEMINAR ILMIAH TAHUN 2022

Hasil yang dicapai:

Sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) setiap 3 (Tiga) tahun mengadakan kongres Ikatan Pustakawan Indonesia. Kongres merupakan ajang pertemuan tinggi para pustakawan seluruh Indonesia untuk menentukan kebijakan dan arah organisasi ke depan. Pengurus periode sebelumnya akan melaporkan pertanggungjawaban atas program yang telah digariskan organisasi pada Kongres IPI XIV tahun 2018. Dalam kongres IPI XV tahun 2022 akan ditetapkan perubahan AD/ART dan Kode Etik, Program Kerja serta memilih Ketua Umum untuk 3 (tiga) tahun kedepan. Disamping kegiatan kongres di adakan juga kegiatan seminar ilmiah nasional dengan tema “ Peran Pustakawan dalam Ekosistem Digital Nasional”.

Kegiatan Kongres XV Ikatan Pustakawan Indonesia dan Seminar Ilmiah ini sudah dilakukan di beberapa provinsi di tanah air dengan tujuan agar pustakawan Indonesia dapat mengenal tanah air yang terbentang antara Sabang sampai Merauke sekaligus dapat mengenal Warisan Kekayaan Budaya Bangsa (National Haritage) yang kita miliki. Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur terpilih seagai tuan rumah untuk melaksanakan kongres IPI XV tahun 2022, diharapkan hadir Pustakawan dan Pengiat Literasi dari seluruh Indonesia sebanyak 600 Orang.

Kongres XV Ikatan Pustakawan Indonesia dan Seminar Ilmiah tahun 2022 ini bertema “Peran Pustakawan dalam Ekosistem Digital Nasional”, dengan menampilkan beberapa pembicara sebagai berikut :

Pembukaan dan sambutan oleh Ketua umum PP- IPI Teuku Syamsul Bahri, Beliau menyampaikan beberapa poin yaitu :

  1. Penyempurnaan anggaran dasar
  2. Proker untuk pustakawan
  3. Kode etik pustakawan
  4. Dengan adanya pertemuan dan kongres pustakwan di harapkan dapat menjadi wadah sebagai terjalinnya kerja sama antar semua pengurus pustakawan untuk mencapai tujuan bersama yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa

Sambutan oleh Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando, dalam acara Konggres Ikatan Pustakwan Indonesia XV menyampaikan antara lain:

  1. Perpustakaan harus bertransformasi dari manual ke digital (ekosistem digital nasional)
  2. Dengan adanya peran perpustakaan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan adanya peningkatan literasi, Perpustakaan diharapkan dapat menjadi wadah bagi masyarakat yang akan memulai usaha mikro untuk meningkatkan taraf hidup mereka
  3. 2 juta content creator tentang peran perpustakaan pada era ekosistem digital
  4. Kolaborasi dan sinergitas untuk mencapai dan mengakselerasikan tujuan bersama meningkatkan literasi nasional

Sambutan dan pembukaan acara Konggres Ikatan Pustakwan Indonesia XV  oleh Gubernur Jawa Timur Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Sos. Beliau menyampaikan tentang tantangan yang dihadapi  pustakawan pada era ekonomi digital yaitu:

  1. Edukasi tentang pentingnya Literasi ekonomi yang dapat meningkatkan dan mendorong masyarkat lebih maju
  2. Meningkatkan umkm berbasis online / e – commerce yang dapat membri makna baru dan mengubah kehidupan secara mendasar bagi diri dan lingkungan maupun dunia
  3. Tugas pustakawan bukan hanya edukasi dengan masyarakat social media / netizen tapi interaksi digital secara sopan dengan pengguna social media agar menjadi contoh masyarakat dalam bermain sodial media secara bijak

Hari Rabu, 02 November 2022

  1. Pembicara Pertama oleh Bapak Yoga Faizal selaku staff Analilisis Kebijakan di  Asisten Deputi Perancangan Jabatan, Perencanaan dan Pengadaan SDM Aparatur  Negara menyampaikan tentang Kebijakan Rekrutmen PPPK dan Formasi Tenaga Pengelola Perpustakaan Tahun 2022, Dalam paparannya kebijakan rekruitmen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) untuk Tenaga Pengelola Perpustakaan Tahun 2022 yang akan diumumkan pada tanggal 7 November 2022 mendatang.
    Peraturan Presiden No. 38 Tahun 2020 yang mengatur Jenis Jabatan yang dapat diisi oleh PPPK adalah jabatan fungsional pustakawan. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tenaga pengelola perpustakaan di seluruh Indonesia. “Proses perekrutan PPPK untuk menjadi ASN harus melalui tahapan seleksi, tidak berdasarkan masa kerja saja” Tegas Yoga Faisal.Proses penerimaan PPPK ini akan dilakukan pemetaan kebutuhan terlebih dahulu oleh seluruh instansi yang mengajukan agar sesuai dengan arah pembangunan SDM Nasional. “Ini yang sedang dibenahi oleh KemenPAN-RB agar pemenuhan kebutuhan PPPK pustakawan dan jabatan lainnya dapat sesuai dengan Arah Pembangunan SDM Nasional.”

    Dari kebijakan yang Pemerintah yang sudah ada perpustakaan perlu menjadi perhatian bersama dan diprioritaskan karena pembangunan literasi dan peningkatan budaya gemar membaca masyarakat berkolerasi terhadap peningkatan daya saing daerah dan menentukan kemajuan suatu bangsa dan kualitas SDM-nya.

  2. Pembicara kedua oleh Bapak Aminuddin Azhari Selaku Narasumber dari Kementerian Dalam Negeri RI juga menyampaikan bahwa perpustakaan merupakan salah satu Prioritas Nasional Peningkatan Peningkatan Budaya Literasi (RJPMN 2020 – 2024). “Perpustakaan adalah Urusan Wajib Non Pelayanan Dasar. Sesuai dengan UU No. 23 Pasal 11 Tahun 2014 tentang Urusan Pemerintah Konkuren Kewenangan Daerah.” Tutur Dr. Edgar Rangkasa (Analisis Kebijakan Ahli Madya Kementerian Dalam Negeri RI).
    Dari kebijakan yang Pemerintah yang sudah ada perpustakaan perlu menjadi perhatian bersama dan diprioritaskan karena pembangunan literasi dan peningkatan budaya gemar membaca masyarakat berkolerasi terhadap peningkatan daya saing daerah dan menentukan kemajuan suatu bangsa dan kualitas SDM-nya.
  3. Pembicara Ketiga Dr. Taufiq A. Gani, S,Kom M.EngSc Kepala Pusat Data dan Informasi Perpustakaan Nasional (Perpusnas) mengemukakan bahwa Perpustakaan Nasional RI juga sangat mendukung Pembangunan SDM nasional dengan mengeluarkan program prioritas tahun 2022, yaitu mewujudkan Ekosistem Digital Nasional Melalui Transformasi Perpustakaan.“Dengan program sinergi Ekosistem Digital Nasional ini Perpustakaan dan utamanya Pustakawan dapat menjaga keseimbangan antara kepentingan dan kebutuhan para pustakawan, industri perbukuan. Selain itu, menjaga komitmen dan perhatian pemerintah (pusat dan daerah), legislative dan informal leader juga.”  harapan Dr. Taufiq A. Gani, S,Kom M.EngSc.
  4. Penulis dan sekaligus Duta Baca Indonesia. Gol A Gong menyampaikan pentingnya pustakawan untuk selalu kreatif pada era digital. Dengan menekankan pentingnya pustakawan dan pemustaka untuk menghasilkan produk dan jasa.Gol A Gong turut menyampaikan rencananya terkait kunjungan Safari Literasi ke 12 wilayah di Indonesia pada tahun 2023 mendatang dan mengajak para pemustaka dan pustakawan di setiap tempat yang akan dikunjungi untuk berkolaborasi menulis dan menerbitkan buku. Wilayah yang akan dikunjungi tersebut yaitu Jakarta, Padang, Maluku Utara, Yogyakarta, Sibolga, Sulawesi Tenggara, Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, Kalimantan Tengah, Banten, Papua Barat dan Kalimantan Utara.
  5. Duta Baca Jawa Timur, Heralda Syafira, yang dalam paparannya mengangkat tema “Peran Perpustakaan dan Masyarakat dalam Mengembangkan Literasi Era Digital”. Seiring dengan berkembangnya sosial media yang menjadi sarana membangun citra penggunanya di dunia maya, Heralda menjelaskan bahwa Internet menjadi kebutuhan utama masyarakat Indonesia saat ini. Lebih jauh lagi dijelaskan bahwa masyarakat Indonesia adalah pengguna peringkat ketiga terbanyak di Asia dan peringkat keenam terbesar di dunia.Tetapi menurut Heralda tidak semua yang menggunakan internet sudah memahami etika dan literasi digital. Oleh karena itu Heralda mengajak kita dalam kampanyenya Pijar Literasi (Pintar Bijak dan Kreatif dalam Berliterasi Digital) untuk bijak menggunakan media sosial dan berhati-hati untuk mengunggah data di dunia maya.

    Adapun Heralda menyebutkan ada empat pilar literasi yang harus kita kuasai untuk mendukung kita bijak berliterasi digital, yakni : Etika Digital, Keamanan Digital, Keterampilan Digital serta Budaya Digital.

    Heralda juga mengutip data dari “Digital Civility Index” pada tahun 2020 yang menyebutkan bahwa netizen Indonesia masuk ke dalam urutan ke-29 atau ketiga terendah sebagai “netizen tidak sopan” di dunia, dan peringkat pertama di Asia

Pada sesi selanjutnya seminar dilanjutkan oleh presentasi tiga makalah terpilih dari Call for Papers tahun 2022 dengan rincian sebagai berikut: Umi Sugiyanti, SIP, MA. dan Agung Pambudi, ST.,MA. dengan judul Perlindungan Data Privasi dan Kebebasan Informasi dalam Platform WhatsApp,

Sri Junandi dan Seno Yudhanto dengan judul Upaya Pustakawan dalam Mendukung Keterbukaan Data Penelitian di Jurnal Ilmiah Peringkat Sinta 1 di Universitas Gadjah Mada dan Sutarsyah dengan judul Kemas Ulang Informasi Perpustakaan Berbasis Animasi Digital.

Hari Kamis, 03 November 2022

  1. Widyaiswara dari Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia provinsi Jawa Timur, Drs. Paso Deka Dewanto, M.Si. mengisi dengan materi dengan judul “Pustakawan Melayani dengan Sepenuh Hati”.

“Pustakawan hendaknya bisa melayani dengan wajah yang tersenyum, memberikan pelayanan maksimal kepada penggunanya,” terang Paso Dewa.

  1. Guru Besar FISIP dari Universitas Airlangga, Prof. Dr. Dra. Rahma Sugihartati, M.Si.  turut menjadi narasumber mengangkat materi dengan judul “Tantangan Pustakawan dalam Perpustakaan Digital”. Keniscayaan di era digital berada di depan mata. KIta hidup di ekosistem digital dan berkembang menjadi budaya digital. Begitu pula dengan pustakawan dan perpustakaan yang berkembang secara digital.

“Di era digital ini pustakawan digital perlu peka dan responsif pada kebutuhan kelompok pengguna di lingkungan digital dan mengembangkan kemampuan literasi digital,” terang Rahma. Menurut Rahma, selain hal tersebut di atas, tantangan bagi pustakawan antara lain harus sanggup untuk mengidentifikasi alat dan sumber daya digital, menciptakan layanan baru yang berpusat pada kolaborasi antara pustakawan digital dan scholar, mampu memberikan konsultasi yang berkaitan dengan kebutuhan informasi dan sumber daya digital di perpustakaan dan melakukan pengembangan dan manajemen koleksi untuk pemenuhan kebutuhan informasi atau sumber daya digital di perpustakaan.

Dilanjutkan dengan pembentukan komisi-komisi dan sidang komisi, dimana komisi I yang membidangi program kerja IPI menghasilkan beberapa rekomendasi salahsatunya menetapkan 7 Juli sebagai hari Pustakawan, ujar Farli membacakan naskah.

Hasto selaku ketua sidang pemilihan dengan didampingi Komisi-komisi dan anggota hadir dalam acara penutupan kongres ke XV dan Seminar Ilmiah Nasional IPI. Kongres yang dilaksanakan di Hotel Vasa, Surabaya. Pada pemilihan tersebut T. Syamsul Bahri kembali terpilih sebagai ketua umum untuk memimpin IPI untuk masa bakti 3 (tiga) tahun kedepan yang mengungguli satu calon lainnya, yaitu Woro Titi Haryanti.

“Dalam sambutan penutupnya beliau menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang tidak terhingga kepada semua pihak sehingga kongres ke XV ini dapat berjalan dengan baik, disamping itu beliau juga mengucapkan selamat kepada pengurus baru dengan harapan semoga kedepan akan lebih baik dalam menjalankan tugasnya serta bisa amanah dan bertanggung jawab atas wewenang dan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya. “Harapnya.

Kongres ditutup ditandai dengan ketuk palu dan foto bersama Pengurus IPI.

Hari Jumat, 4 November  2022

Kunjungan Kerja di Perpustakaan Pada Museum Tugu Pahlawan Kota Surabaya dan Museum Sampoerna