Tan Malaka
Bapak Republik yang Dilupakan
Tan Malaka adalah orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia. Muhammad Yamin menjulukinya “Bapak Republik Indonesia” Soekarno menyebutnya “seorang yang mahir dalam revolusi “, tapi hidupnya berakhir tragis di ujung senapan tentara republik yang didirikannya. Tan mempunyai daya tarik yang tak tertahankan. Sewaktu Soeharto berkuasa. Menggali pemikiran serta langkah-langkah politik Tan sama seperti membaca novel-novel Pramoedya Ananta Toer. Buku-bukunya disebarluaskan lewat jaringan klandestin. Diskusi yang membahas alam pikirannya dilangsungkan secara berbisik, meski dalam perjalanan hidupnya Tan akhirnya bersebrangan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), sosoknya sering kali dihubungkan dengan PKI: musuh abadi orde baru.
Tan melukis revolusi Indonesia dengan bergelora. Soekarno pernah menulis testamen politik yang berisi wasiat penyerahan kekuasaan kepada emat nama – salah satunya Tan Malaka – apabila Bung Karno dan Bung Hatta mati atau ditangkap. “…jika saya tiada berdaya lagi, maka saya akan menyerahkan pimpinan revolusi kepada seorang yang telah mahir dalam gerakan revolusioner, Tan Malaka,” kata Soekarno. Tapi di masa pemerintahan Soekarno pula Tan dipenjara dua setengah tahun tanpa pengadilan. Perseteruannya dengan para pemimpin pucuk PKI membuat ia terlempar dari lingkaran kekuasaan. Ketika PKI akrab dengan kekuasaan, Bung karno memilih Musso – orang yang telah bersumpah mengantung Tan karena pertikaian internal partai – ketimbang Tan. Sedangkan D.N Aidit memburu testamen politik Soekarno kepada Tan.
Di seputar Proklamasi, Tan menorehkan perannya yang penting. Ia mengerakkan para pemuda ke rapat raksasa di lapangan Ikada (kini Kawasan Monas), 19 September 1945. Inilah rapat yang menunjukkan dukungan massa pertama terhadap proklamasi kemerdekaan yang waktu itu belum bergema keras dan masih sebatas catatatn di atas kertas. Tan menulis aksi itu “uji kekuatan untuk memisahkan kawan dan lawan.” Setelah rapat ini, perlawanan terhadap Jepang kian berani dan gencar.
Tan tak pernah menyerah. Mungkin itulah yang membuatnya sangat kecewa kepada Soekarno – Hatta yang memilih berunding dan kemudian ditangkap Belanda. Menurut Poeze, tan berkukuh sebagai pemimpin revolusi, Soekarno semestinya mengedepankan perlawanan gerilya ketimbang menyerah. Baginya, perundingan hanya bisa dilakukan setelah ada pengakuan kemerdekaan Indonesia 100 persen dari Belanda dan Sekutu. Tanpa itu nonsenses.
Tan Malaka menguraikan dasar dan tujuan pendidikan kerakyatan. Pertama, perlunya pendidikan keterampilan dan ilmu pengetahuan seperti berhitung, menulis, ilmu bumi, dan bahasa. Hal ini sebagai bekal dalam menghadapi kaum pemilik modal. Kedua, pendidikan bergaul atau berorganisasi dan berdemokrasi. Ini untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri, dan cinta kepada rakyat miskin, Dan ketiga, pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.
Tan Malaka menegaskan , sekolahnya bukan mencetak juru tulis, seperti tujuan sekolah pemerintah, selain untuk mencari nafkah diri dan keluarga, sekolah ini juga membantu rakyat dalam pergerakannya. Menurut Harry A. Poeze, inspirasi mendirikan sekolah rakyat ini berasal dari Belanda dan Rusia. Tan Malaka katanya sempat membaca tulisan warga Rusia mengenai kurikulum sekolah komunis. Inspirasi lainnya kata Poeze dari pengalaman Tan ketika bertugas di perkebunan tembakau Deli. “Pengetahuan yang ia dapatdisesuaikan dengan keadaan di Indonesia”, kata Poeze.
Kisah Tan Malaka adalah satu dari empat cerita tentang pendiri republik : Soekarno, Hatta, Tan malaka, dan Sutan Sjahrir. Diangkat dari edisi khusus Majalah Berita Mingguan Tempo sepanjang 2001 – 2009, serial buku ini mereportase ulang kehidupan keempatnya. Mulai dari pergolakan pemikiran, petualangan, ketakutan, hingga kisah cinta dan cerita kamar tidur mereka.